Melongok Pembudidayaan Jamur Tiram Barokah, Mitra Binaan CSR PLN UPDK Jambi di Talang Belido

0
636

MUARO JAMBI (WARTANEWS.CO) – Usaha budidaya Jamur Tiram menggunakan media Baglog  yang sukses dikembangkan Kasdi (46), petani mandiri -yang akrab dipanggil Pak De Kasdi ini, warga RT 1, Dusun Talang Jambu, Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam sungguh mengejutkan hasilnya.

Malahan dari hasil usaha jerih payah dan kerja kerasnya selama ini, dia mampu menambah pendapatan (income) dan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari dari penjualan jamur tiram yang dirintis sejak 2018 lalu.

Bahkan usaha budidaya jamur tiram milik Pak De Kasdi ini pun, sudah memiliki brand nama “Barokah” sehingga cukup familiar di pasaran.

Berkat usahanya yang gigih, ulet dan ketekunan yang tinggi, ia pun mampu dipercaya PT PLN (Persero) sebagai mitra binaan terpercaya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) PLN UPDK Jambi untuk pengembangan yang lebih luas lagi ke masyarakat diharapkan dapat menjangkau dan mensuplai kebutuhan permintaan pasar jamur tiram di Provinsi Jambi kedepannya.

“Kita jual setengah kilonya Rp.20.000. Jamur Tiram (milik) kita, ada dua jenis, yakni yang memiliki kemasan Jamur Tiram nama Barokah, dan polos saja (tanpa kemasan nama). Keduanya juga sama, kita jual seharga Rp.20.000 setiap setengah kilogramnya. Baik itu jamur tiram yang menggunakan kemasan nama Barokah ini, dan yang polos,” jawabnya kepada Wartanews.

Budidaya jamur tiram menggunakan media Baglog sebagai bibitnya di Kumbung milik Pak De Kasdi di Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam ini, memiliki tiga ruang Kumbung yang ukuran bangunannya sama, masing-masing memiliki panjang enam meter, dan lebarnya berukuran lima meter, serta berlantai tanah dengan segala fasilitasnya untuk menunjang kemajuan usaha budidayanya.

“Pembuatan tiga bangunan Kumbung untuk budidaya jamur tiram ini, beserta fasilitasnya yang ada ini, merupakan bantuan dari PT PLN (Persero), dari program CSR PLN UPDK Jambi, yang sudah serah terima pada 22 Oktober 2020 yang lalu, dan usaha pengembangan budidaya Jamur Tiram ‘Barokah’ ini pun, merupakan mitra binaan CSR PLN UPDK Jambi sampai sekarang,” paparnya.

Pembuatan bangunan Kumbung tersebut, jelas Pak De Kasdi, sebagai ruangan tempat peningkatan sarana pembudidayaan media tanam Jamur Tiram melalui Baglog, yang juga sekaligus digunakan sebagai bahan produksi usaha jamur-jamur tiramnya, yang nantinya akan dikondisikan agar tumbuh jamur-jamur di dalam media Baglog sebagai bibitnya.

“Jamur-jamur tiram, yang (sudah) tumbuh dalam media Baglog inilah, yang kita ambil, dan kita jual ke pengepul,” sebutnya.

Bangunan Kumbung di lokasi pusat pembudidayaan Jamur Tiram Barokah mitra binaan CSR PLN UPDK Jambi, Jalan Jambi Paradise Talang Belido, memiliki tiga bangunan yang sama ukurannya, dan berlantai tanah yakni panjang enam meter dan lebar lima meter, jelasnya ketiga bangunan Kumbung tersebut, masing-masing setiap kumbungnya telah diisi sebanyak 2.000 bibit dalam media Baglog, yang disusun dalam rak-rak bertingkat tersusun rapi, dengan tingkat kelembaban suhu tertentu sesuai standar suhu ruang dalam setiap Kumbung yang diperlukan yaitu 20-28 derajat Celcius.

“Satu Kumbung diisi sebanyak 2.000 bibit Baglog jamur tiram, dan untuk perawatannya pun tidak sulit. Hanya senantiasa tetap menjaga kelembaban suhu ruang setiap harinya, dengan menggunakan alat pengukuran suhu ruang yang ada di dalam masing-masing bangunan Kumbung ini, yakni dengan kelembaban ukuran suhu ruang 20-28 derajat Celcius. Hanya saja menurut saya, perlu pengawasan yang teratur dan kontinyu, untuk (selalu) mengecek Baglog-baglog yang ada di dalam Kumbung ini. Sementara untuk hamanya, yakni hanya ulat  jamur saja,” jelasnya.

Lanjut ia menambahkan pada umumnya petani-petani jamur tiram mandiri di wilayah Kecamatan Sungai Gelam dan Provinsi Jambi, jawabnya, biasanya menjual kepada tengkulak lalu sampai ke konsumen.

“Usaha Jamur Tiram Barokah, yang saya punya ini, masih minim sekali. Hanya mampu sebulan produksi sebanyak 150 kilo setiap bulannya, dan belum mampu memenuhi kuota permintaan pasar Jamur Tiram yang ada di Provinsi Jambi, yaitu sebanyak 50 kilo setiap harinya. Tapi kita terus berupaya kedepannya. Yah, setidak-tidaknya separohnya, atau setengahnya, (untuk mencukupi) permintaan jamur tiram di pasaran, dan perkembangan usaha budidaya Jamur Tiram ini di tanah air pun potensinya sangat besar di masa datang,” harapnya.

Whats-App-Image-2021-12-28-at-05-05-52

Untuk meningkatkan kapasitas produksi usahanya, lanjutnya, saat ini masih terkendala dengan masalah harga bibit Baglog di pasaran, dan tentu saja sangat membutuhkan modal besar.

Juga tidak kalah pentingnya lagi, kata Pak De Kasdi, kelengkapan peralatan dan mesin yang memadai untuk menunjang kemajuan usaha petani jamur tiram umumnya termasuk perkembangan kelancaran usaha miliknya ini, seperti pengadaan mesin Pres untuk mencetak kemasan-kemasan berbahan plastik untuk bibit Baglog, serta mesin Oven pemanas.

“Untuk satu bibitnya dalam kemasan media Baglog ini saja, harganya mencapai Rp.3.000, saat ini. Maka sangat dibutuhkan pengadaan peralatan dan mesin yang memadai untuk membantu bagi kemajuan perkembangan usaha petani mandiri, seperti usaha saya ini yang hanya mampu membuat Baglog-baglog yang di Pres secara manual, tanpa dibantu peralatan mesin inovasi teknologi tepat guna. Justru sudah banyak dijumpai di daerah-daerah di Pulau Jawa dan yang lainnya, mereka yang berhasil, petani-petani usaha jamur tiram itu, mereka sudah mampu memiliki alat-alat sendiri secara modern, menggunakan mesin inovasi tersebut, yang memang dibutuhkan untuk mencetak dan membuat (bibit) Baglog dalam waktu cepat,” tuturnya.

Ditambahkan pihaknya juga sudah berupaya berinovasi untuk kemajuan pengembangan usaha budidaya jamur tiram miliknya, saat ini usaha Jamur Tiram Barokah rencana kedepannya, kata Pak De Kasdi, akan membuat jenis olahan makanan yakni Krispi dari bahan baku jamur tiram, bersama istrinya Bu De Astufa seraya memenuhi standar dalam perizinan PIRT dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi .

“Untuk saat ini, masih berproses, ya. Doakan, saja. Kita pun masih menunggu untuk izin PIRT-nya, untuk (memperoleh) perizinan produksi pangan industri rumah tangga, yang kita butuhkan untuk (rencana) pembuatan olahan makanan Jamur Krispi Barokah ini. Sementara sudah banyak sekali, pelaku usaha kuliner yang menggunakan bahan dasar dari jamur tiram ini sebagai menunya, seperti Rendang Jamur, Sate Jamur, dan lain-lain,” ungkapnya. Semoga. (Afrizal)

Berikan Komentar Anda

Please enter your comment!
Please enter your name here